Akhir-akhir ini kita tersentak dengan pemberitaan yang mengusik hati nurani sebagai Bangsa Indonesia, yang katanya bangsa bermartabat. Sungguh ironi, saat Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO , menyetujui konvensi yang menetapkan perlindungan bagi pembantu rumah tangga di seluruh dunia dan konvensi baru tersebut akan menjadi landasan untuk menjamin pekerja rumah tangga mendapatkan kondisi kerja setara dengan yang diperoleh pekerja di sektor lain, tidak lama kemudian, berita Ibu Ruyati yang dihukum pancung oleh pengadilan Arab Saudi, menyebarluas di Indonesia, dan menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi bangsa ini.
Menurut berita-berita yang menyebar di Indonesia, tidak hanya Ibu Ruyati saja yang dikabarkan membunuh majikan/orang tua majukan, kita masih dijejali berita Ibu Darsem, yang dimaafkan oleh ahli waris setelah pemerintah membayar uang Rp. 4,5 milyar, dan Ibu Siti Zainab yang masih menunggu ahli warisnya berumur 17 tahun. Menurut informasi dari Kedubes RI untuk Arab Saudi, masih terdapat 26 orang lagi yang bermasalah, 23 orang masih dalam proses hukum, sementara kita bersyukur karena 3 orang TKI telah dimaafkan keluarga.
Berkaca dari hal tersebut diatas, tentunya kita mesti berpikir, ada apa dengan TKI kita ? kenapa perempuan Indonesia yang dikenal lembut, lemah gemulai bisa “membunuh” ?, sementara TKI kita yang bekerja di negara lain seperti Malaysia ada yang “terbunuh” secara mental dan disiksa, dan TKI kita yang bekerja di Hongkong, adem-adem saja, mungkin saja ada masalah, namun saat ini Hongkong merupakan “Surga” bagi TKI.
Terlepas dari benar atau tidak bahwa Ibu Ruyati dan Ibu Darsem “membunuh” majikannya, menurut Dr. Charles Raison, seorang psikiater dan direktur Mind/Body Institute di Universitas Emory, yang dikutip dari therewillbeposts, seseorang yang sudah memutuskan untuk membunuh seseorang lain, seorang pelaku sering tidak bisa mengingat hal tertentu dari saat penyerangan, bahkan mungkin mengalaminya seperti saat tidak sadarkan diri.
Ada faktor-faktor resiko yang jelas pada pembunuhan, yaitu tumor otak, serangan penyakit, alkohol dan kecanduan obat, dan psikosis yang berakar dari skizofrenia atau gangguan lainnya. Faktor resiko lain adalah sebuah kondisi yang disebut gangguan delusi atau khayalan yang menyebabkan orang percaya bahwa seseorang melawan mereka, orang dengan depresi psikotik dan skizofrenia juga bisa menyembangkan semacam khayalan.
Dari pemaparan ahli Psikologi tersebut, besar kemungkinan yang dialami oleh Ibu Ruyati dan Ibu Darsem adalah depresi berkepanjangan, karena peristiwa emosional yang dialaminya saat berada dilingkungan keluarga tempat mereka bekerja. dan sebagai wanita dua kali lebih mudah terkena depresi. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa mereka bisa mengalami depresi seperti itu lalu tega “membunuh”, sedangkan TKI yang bekerja di negara Malaysia sampai saat ini belum ada kasus membunuh majikannya ?
Membandingkan kejadian atau kasus antara TKI di Malaysia dengan Arab Saudi, memang tidak ada korelasi yang nyata, namun bila dilihat dari perspektif lain, dapat kita ambil benang merahnya. TKI yang bekerja di Arab Saudi berpotensi memiliki potensi depresi yang tinggi, karena jarak antara negara Indonesia dan Arab Saudi sangat jauh dibandingkan antara jarak Indonesia dan Malaysia, hubungan antara jarak sebuah Negara dengan depresi yang dialami TKI sampai saat ini belum ada penelitiannya, tetapi secara psikologis dapat kita rasakan bahwa semakin jauh seseorang dan sulit untuk pulang kerumah, semakin tinggi pula usaha untuk bertahan hidup.
Selain hal tersebut diatas, menurut saya, yang menjadi faktor munculnya depresi tersebut karena konotasi yang salah memandang seorang TKI, mungkin mereka beranggapan TKI yang bekerja dirumah mereka adalah budak, budak dalam artian orang yang bisa diperintah apa saja. Padahal kita mengetahui bahwa perbudakan yang pada zaman pra Islam, bukan suatu hal yang aneh di Arab, kemungkinan budaya itu masih melekat pada karakter orang arab.


syaiful Berkata:
on Desember 31, 2011 at 2:05 pm
itu terjadi krn mrk terdesak at terancam. betooooooooooool