Suara Hati “ORGIL”


Aku sudah tidak punya nama, karena sudah tidak orang yang orang memanggilku namaku lagi, mungkin mereka lupa, atau memang sudah tidak mengenaliku lagi, aku juga tidak mengenali orang-orang disekitarku, hmm..  aku bahagia.

Tiap hari kebahagian selalu menyertaiku, walau aktivitasku lebih sibuk dari seorang Direktur, senyumku selalu terhias di bibirku. Kakiku selalu lecet dan luka karena perjalanan panjang yang tak berujung, aku juga bahagia.

Saat aku melewati keramaian, orang-orang selalu menghindar, saat itu aku merasakan bagaikan panglima perang yang sedang lewat di barisan prajurit-prajurit kerajaan, aku bahagia.

Dulu aku tidak seperti ini, setiap aku berjalan di keramaian, orang-orang berebutan menyalamiku dengan berbagai harapan, harapan naik jabatan, minta sumbangan, bahkan hanya sekedar mencari simpatiku saja. Saat itu, aku tidak bahagia.

Hawa dingin angin malam yang menyerangku dikala gelap, itulah selimutku. Tiap malam aku selalu ditemani keramaian, suara nyanyian nyamuk di telingaku, nyanyian jangkrik dikejauhan, kadangkala tikus ikut menemaniku disaat aku tertidur lelap, aku Senang sekali.

Aku tidak takut kelaparan, aku sering menemukan kantong kresek yang dibuang sembarangan dijalanan, itu adalah rejeki, aku tidak malu bila harus mengorek sampah-sampah, itu juga sumber rejeki bagiku. Saat orang-orang melempariku dengan batu, aku hanya tersenyum dan tertawa, karena aku pikir orang-orang itu sayang padaku, aku tertawa bahagia.

Damm, akhirnya aku punya nama, anak-anak itu memanggilku dengan sebutan Orgil, nama itu aku dapatkan saat aku melewati sekumpulan anak kecil yang sedang bermain, mereka memanggilku “orgil, orgil, orgil”, aku bahagia sekali dengan panggilan itu, kemudian, akupun ikut bertepuk tangan dan melompat-lompat seperti mereka sambil berlari, karena mereka terus mengejarku.

Aku bahagia, ya, aku selalu bahagia, kebahagiaan itu akhirnya pupus juga. Saat aku sedang berjalan menikmatinya, mobil ber-flat merah tiba-tiba menabrakku dari depan, aku terkapar, darah ku membanjiri jalanan, aku sedih, sedih sekali, tidak seorangpun peduli padaku, aku dibiarkan terkapar dijalan itu, hanya ada lalat-lalat yang menemaniku sambil berpesta menikmati darahku yang berserakan. Aku melihat darah itu masih berwarna merah, sama dengan warna darah orang yang menganggap dirinya masih waras.

pasukankudis.blogspot.com

2 Komentar »

  1. Hey there, You’ve done an excellent job. I will definitely digg it and personally suggest to my friends. I am confident they’ll be benefited from this website.

  2. Write more, thats all I have to say. Literally, it seems as though you relied on the video
    to make your point. You obviously know what youre talking about, why waste your intelligence
    on just posting videos to your blog when you could be giving us something
    enlightening to read?


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Semua Info

semua informasi dunia maya ada disini, download program, skripsi, jurnal

%d blogger menyukai ini: